Lucunya Gus Dur

Januari 8, 2010 fnpinky
Tag: , , , , ,


Apr 17, ’06 3:05 PM
for everyone

Seorang penulis pernah bilang bahwa Gus Dur ini memang tidak tanggung-tanggung kontroversialnya.  Di satu sisi ia mengedepankan sekularisme, tapi di sisi lain ia habis-habisan menunggangi simbol-simbol keagamaan seperti pesantren, ke-kyai-annya, atau ke-Gus-annya.  Di sana-sini ia berteriak agar jangan terlalu mengeksploitasi hukum Islam dalam kehidupan berbangsa yang pluralis, namun ketika ada yang hendak melengserkannya dari kursi kepresidenan, tiba-tiba muncul istilah “fiqih dalam menghadapi makar terhadap pemimpin umat”.  Tiba-tiba saja ayat-ayat Al-Qur’an digunakan untuk mengecam orang-orang yang hendak menjatuhkan dirinya.  Tapi itulah politik.

Belum lama ini, situs resmi Jaringan Islam Liberal (JIL) memuat sebuah wawancara yang dilakukan oleh M. Guntur Romli dan Alif Nurlambang terhadap mantan orang nomor satu di Indonesia itu.  Pembicaraan seputar RUU APP yang memicu banyak perdebatan itu.  Di dalamnya, lagi-lagi, muncul begitu banyak ‘kelucuan’ yang sebenarnya sudah menjadi ciri khas seorang Abdurrahman Wahid.

Ketika dimintai komentar tentang Perda Tangerang yang melarang habis pelacuran, Gus Dur melihatnya dari ‘sisi lain’.  Menurutnya, membuat aturan yang melarang pelacuran bukanlah prioritas utama.  Di baliknya, masih ada persoalan ekonomi.  Dengan kata lain, jika tidak ada peningkatan taraf kehidupan, maka pelacuran tidak akan bisa dihapuskan.

Barangkali Gus Dur lupa bahwa pelacuran senantiasa ada meskipun di lingkungan orang-orang kaya.  Memang gayanya beda, dan pelacur jenis ini tidak mejeng di pinggir jalan, melainkan menunggu telpon di rumah masing-masing.  Bayarannya bukan dalam hitungan ratusan ribu rupiah, jutaan rupiah pun ada.  Para pelacur ini juga bukan orang miskin, namun kaum perempuan hiperseks yang mau saja dijadikan komoditas bisnis dengan harga yang sangat tinggi.  Tidak ada bukti bahwa pelacuran bisa dihapuskan ketika ekonomi rakyat membaik.

Berikutnya, pewawancara meminta pendapat sang Gus tentang kesan ‘arabisasi’ dalam pelaksanaan RUU APP dan sejumlah perda syariat.  Gus Dur membenarkan kesan tersebut dan tidak lupa mempertanyakan sikap ‘arabisasi’ tersebut.

Pertanyaan usang soal ‘arabisasi’ ini sebenarnya sudah dijawab dengan sangat jitu oleh Mas Jonru, namun biarlah saya mengulangnya sedikit (dengan redaksi saya sendiri).  Anggaplah kita sebagai bangsa Indonesia tidak boleh menerima budaya lain yang akan mencemari kepribadian bangsa kita.  Lalu apa sebenarnya yang selama ini terjadi di negeri ini pada era globalisasi?  Kalau kita protes pada ‘arabisasi’, mengapa Gus Dur tidak pernah terdengar memprotes ‘westernisasi’, bahkan cenderung mendukungnya?  Apakah orang Barat lebih baik daripada Arab?

Tapi itu semua berasal dari sebuah asumsi bahwa RUU APP memang benar-benar sebuah proyek ‘arabisasi’.  Padahal tidak demikian.  Memang tidak ada perlunya mencontoh negara-negara Arab, karena mereka sendiri tidak melaksanakan ajaran Islam dengan benar.  Negara manakah yang menjalankan ajaran Islam dengan sepenuhnya?  Apakah negara kerajaan bisa dianggap telah meneladani kekhalifahan?  Jelas tidak!  Lagipula RUU APP tidak dibuat berdasarkan standar Islam.  Tidak ada kewajiban menggunakan jilbab bagi perempuan di RUU tersebut.  Tidak usah sampai begitu.  Sesopan Siti Nurhaliza pun sudah cukup, kok!  Karena itu, perlu dipertanyakan RUU manakah yang sebenarnya sedang dibicarakan oleh Gus Dur ini?

Untuk melengkapi keanehan itu, Gus Dur kemudian memberikan sebuah ‘contoh kasus’.  Beginilah katanya : “Semua orang tahu bahwa pesantren itu lembaga Islam, tapi kata pesantren itu sendiri bukan dari Arab kan? Ia berasal dari bahasa Pali, bahasa Tripitaka, dari kitab agama Buddha.”

Sepertinya Gus Dur gagal membedakan antara pesantren dengan istilah pesantren itu sendiri.  Pesantren memang sebuah lembaga Islam, tapi istilahnya tidak berasal dari ajaran Islam.  Pesantren itu sendiri sebenarnya tidak berbeda dengan sebuah sekolah, hanya saja sangat kental diwarnai dengan pengajaran agama Islam.  Mengenai istilah yang digunakan untuk melambangkan sekolah yang bernuansa Islami itu sendiri bebas menggunakan bahasa apa pun.  Orang Nepal menggunakan bahasa Nepal, orang Meksiko menggunakan bahasanya sendiri, dan orang Brasil tidak mesti menggunakan bahasa Perancis.  Kalau orang Indonesia menggunakan bahasa nenek moyangnya dahulu, apa salahnya?  Toh penamaan itu tidak mempengaruhi isi ajarannya.

Entah kelepasan atau tidak, Gus Dur kemudian bahkan menegaskan bahwa kita tidak bisa menerapkan syariat Islam jika bertentangan dengan UUD 45.  Pertanyaannya, apakah agamanya : Islam atau Indonesia?  Siapakah Rasul yang ditaatinya : Muhammad saw. atau para penyusun UUD 45 itu?  Mengapa seorang Gus bisa memberi harga yang demikian rendah terhadap agamanya sendiri?  Entahlah.

Berikutnya, sang narasumber menegaskan bahwa standar moralitas berubah dari waktu ke waktu dan bisa juga berlainan di masing-masing tempat.  Menurutnya, apa yang dianggap tidak senonoh di masa lalu bisa jadi wajar di masa sekarang.  Selain itu, apa yang dianggap cabul di suatu tempat bisa jadi hanyalah sebuah tradisi yang wajar bagi yang lainnya.

Pertanyaannya sekarang : jujurkah mereka yang mengatakan bahwa standar moralitas itu telah berubah?  Pertama, apa betul mereka tidak merasa terangsang sedikit pun melihat pengumbaran aurat di tempat-tempat umum di masa sekarang ini?  Hanya sekedar kata-kata dari lidah tidak bisa menjamin apa-apa.  Siapa pun bisa berbohong dengan mengatakan dirinya tidak terangsang agar kaum perempuan tidak ragu lagi untuk menambah rangsangan itu.  Seharusnya kita menggunakan lie detector.

Kedua, apa betul standar moralitas berubah?  Pornoaksi sudah ada sejak dahulu kala, tidak ada yang berubah.  Tari-tari erotis sudah ada sejak dahulu kala.  Pelacuran sudah ada sejak jaman para Nabi, dan homoseksualitas juga sudah ada, paling tidak sejak jaman Nabi Luth as.  Dan sejak dahulu pula, semua hal tersebut sudah merongrong kehidupan manusia.  Jadi, kata siapa standar moralitas telah berubah?

Ketika bicara tentang sastra Islam, lagi-lagi Gus Dur gagal membedakan antara ‘sastra Islami’ dengan ‘sastra yang dibuat oleh sastrawan yang beragama Islam’.  Ia menceritakan sebuah novel karangan Naguib Mahfouz yang bercerita tentang pergulatan batin seorang pelacur.  Menurut Gus Dur, sastra itu jelas tidak bisa dianggap sebagai sastra non-Islam karena jelas-jelas penulisnya adalah Muslim.  Sudah jelas dimana kekeliruannya, bukan?

‘Kenakalan’ Gus Dur yang paling parah adalah ketika ia menyebut Al-Qur’an sebagai kitab yang paling porno.  Begini cetusnya : “Di Alqur’an itu ada ayat tentang menyusui anak dua tahun berturut-turut.  Cari dalam Injil kalau ada ayat seperti itu.  Namanya menyusui, ya mengeluarkan tetek kan?!  Cabul dong ini.  Banyaklah contoh lain, ha-ha-ha…”

Pertama, masalah menyusui anak bukanlah perkara cabul.  Kalau Al-Qur’an tidak memotivasi kaum ibu untuk menyusui anaknya hingga waktu yang optimal, barangkali generasi muda umat Islam akan berkembang dengan tidak cukup baik.  Apakah perkara menyusui anak harus diabaikan lantaran berkaitan dengan organ payudara?  Kasihan sekali anak-anak, jika memang demikian.  Untung Al-Qur’an tidak ditulis oleh Gus Dur.

Kedua, sebenarnya Gus Dur sendiri yang menyusahkan dirinya dengan definisi cabul yang terlalu jauh.  Tidak ada yang mengatakan bahwa seorang ibu yang menyusui anaknya itu telah berbuat cabul.  RUU APP pun jelas tidak melarang ibu mana pun untuk menyusui anaknya.  Bahkan hanya orang gila yang akan melarang peristiwa alamiah yang amat bermanfaat bagi bayi, baik dari segi medis maupun psikis tersebut.

Ketiga, apa yang Gus Dur maksud dengan Injil?  Apakah ia pernah melihat Injil yang masih asli?  Umat Islam pasti beriman pada Injil, hanya saja kita tidak pernah lagi menemukan Injil yang asli.  Injil yang benar pasti sejalan dengan Al-Qur’an.  Kalau yang dimaksud adalah Bibel (Kitab Suci yang digunakan oleh umat Kristiani sekarang), maka kita tidak boleh menyebutnya sebagai Injil, karena Al-Qur’an dan Al-Hadits telah menegaskan bahwa umat Nasrani telah mengubah-ubah Injil menurut kehendaknya sendiri.

Keempat, anggaplah kita menerima istilah ‘Injil’ untuk Kitab Suci umat Kristiani jaman sekarang.  Apakah di sana tidak ada ayat-ayat yang berbau cabul?  Saya rasa Gus Dur harus diperkenalkan pada sebuah masterpiece karya seorang ulama besar yang bernama Ahmad Deedat (semoga Allah SWT ridha kepadanya).  Cukuplah buku The Choice sebagai referensi atas ‘keanehan-keanehan’ (termasuk ayat-ayat porno) di dalam ‘Injil’ tersebut.

Berikutnya, Gus Dur mengulang sebuah pernyataan klise tentang ‘dipojokkannya’ kaum perempuan dalam masalah moralitas bangsa.  Menurutnya, perempuan tidak perlu ‘dipersalahkan’ dan ‘dituduh’ sebagai oknum yang menyebabkan munculnya rangsangan bagi kaum laki-laki.  Laki-lakilah yang salah karena seringkali menganggap perempuan sebagai objek seksual.

Gus Dur lupa bahwa standar aurat untuk lelaki dan perempuan itu berbeda.  Kalau kita menggunakan standar itu, maka jelaslah bahwa populasi laki-laki dewasa yang menutup aurat lebih banyak daripada populasi perempuan yang menutup aurat.  Kalau Gus Dur tidak merasa terangsang, baguslah!  Tapi tidak semua orang seperti itu.  Aturan menutup aurat diberlakukan untuk menjaga ketertiban, bukan mendiskreditkan perempuan.

Lalu muncullah sebuah klise yang lain : Tuhan tidak perlu dibela!  Benar sekali, Tuhan tidak butuh dibela, bahkan Dia tidak membutuhkan apa-apa dari siapa pun.  Seluruh umat manusia kafir atau beriman tidak akan memberikan untung atau rugi pada-Nya.  Itulah kenyataanya.  Akan tetapi, manusialah yang perlu melakukan ‘pembelaan’ itu.  Kalau kita diam saja ketika Tuhan dihina, maka kita harus khawatir di akhirat nanti kita dimasukkan ke dalam kelompok orang-orang yang komitmennya terhadap agama lemah.

Gus Dur juga menganggap bahwa inti ajaran kejawen itu sama dengan Islam.  Pernyataan ini tidak ilmiah karena tidak mengandung bukti apa pun.  Lagi pula, kesamaan inti ajaran saja belum bisa memenuhi syarat di hadapan Allah.  Kalau Allah telah menetapkan syariat yang diridhai-Nya, lalu bagaimana?  Apakah kita masih merasa bebas menjalankan agama dengan selera kita masing-masing?  Apakah ketetapan Allah bisa diubah dengan kesepakatan manusia?  Betapa lemahnya Allah di mata Anda, Gus!

Melihat betapa lucunya tokoh yang satu ini, kita bisa meramalkan bahwa JIL masih akan menjadikannya sebagai narasumber di masa depan.  Sebagaimana Gus Dur, JIL pun penuh dengan dagelan.  Karena itu, tidak usah ditanggapi dengan terlalu serius.  Santai dan tertawa sajalah.  Tapi jangan lupa di-counter ya…

Entry Filed under: berita GJ

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Kategori

Januari 2010
S S R K J S M
« Des    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Blog Stats

Halaman

Komentar Terbaru

fnpinky di MySpace
fnpinky di Jaya Q
fnpinky di Jaya Q
fnpinky di Beras
fnpinky di Rafael Nadal

Blogroll

RSS berita olahraga terkini

 
%d blogger menyukai ini: