sepak bola indonesia

Januari 8, 2010 fnpinky
Tag: , , , ,

image

Alan Martha, sukses menahan imbang Australia. (Arief Bagus/BOLA)

Perasaan bangga campur kecewa saya rasakan menyaksikan aksi Tim Merah-Putih tampil di ajang Pra-Piala Asia U-19 di Stadion Si Jalak Harupat, Soreang, baru-baru ini.

Ya, bangga menyaksikan penampilan solid Syamsir Alam dkk. melawan Taiwan, Australia, dan Hong Kong. Terutama saat menjajal Tim Negeri Kanguru, skor akhir pertandingan mungkin hanya 0-0, tetapi sepanjang pertandingan punggawa timnas yang telah berguru selama dua tahun di Uruguay menguasai jalannya pertandingan.

Anak-anak Australia yang unggul postur dibuat kelimpungan menghadapi gempuran yang dilakukan Alan Martha dkk. Ini hal yang selama ini jarang terjadi. Di mana selama ini Australia, yang notabene level sepak bolanya di atas kita selalu menjadi momok yang menakutkan.

Tetapi rasa kecewa tetap timbul, sekalipun bisa menahan imbang Australia, menang melawan Taiwan dengan skor telak 6-0, plus sukses menekuk Hong Kong 4-1, timnas kita tetap gagal lolos ke putaran final. Ujung-ujungnya gagal gagal lagi.

Sama seperti perhelatan Piala Asia 2007 lalu, timnas yang diarsiteki Ivan Kolev juga tampil menawan di hadapan publik sepak bola Tanah Air yang memerahkan Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senayan. Sukses menekuk Bahrain 2-1, Ponaryo Astaman dkk. gagal mencetak sejarah lolos untuk kali pertama lolos ke fase perempat final sejak 1996 kali pertama tampil di perhelatan tertinggi sepak bola Asia setelah dipecundangi Rep. Korea dan Arab Saudi.

KURANG BERUNTUNG

“Keberuntungan belum memihak kita,” ungkap Ketua Umum PSSI, Halid Nurdin.

Keberuntungan? Saya kurang setuju jika dibilang kegagalan timnas berprestasi maksimal karena faktor lucky. Kualitas kita memang belum masih tertinggal dari para pesaing. Saat Indonesia meratapi kegagalan lolos ke perempat final Piala Asia 2007, negara tetangga Vietnam justru melaju higga babak perempatfinal. Negeri Paman Ho menjadi satu-satunya Negara ASEAN yang bisa lolos dari penyisihan grup. Apa yang dicapai Vietnam merupakan suatu keberutungan semata? Rasanya tidak.

Level sepak bola negara yang pernah berperang dengan Amerika Serikat memang telah meningkat pesat dibanding Indonesia dan negara-negara lain di ASEAN. Buktinya: dua tahun berselang mereka sukses menjadi kampiun Piala AFF, mengakhiri hegemoni Singapura dan Thailand yang selama ini menjadi langganan jawara.

Sama seperti di level PPA U-19, timnas asuhan Cesar Payovich memang tampil impresif di grup F, tetapi secara prestasi apa yang mereka capai masih terhitung biasa-biasa saja. Setidaknya di kawasan ASEAN. Karena di sisi lain Thailand, Vietnam, dan Malaysia yang selama ini menjadi pesaing utama di Piala AFF dan SEA Games bisa lolos ke putaran final Piala Asia U-19.

PSSI boleh berkilah walau gagal lolos posisi kita sedikit lebih baiklah dibanding Singapura, yang menduduki posisi nomor dua terbawah di grup yang sama dengan kita. Sementara itu, Indonesia sukses mengantungi posisi tiga besar di bawah negara elite, Jepang dan Australia. Itu soal peringkat, tapi kalau bicara head to head kita ditaklukkan Tim Negeri Singa 0-1 di partai perdana PPA U-19.

Atas kekalahan itu Nurdin Halid menyorongkan alasan wajar jika kita kalah karena secara usia pemain-pemain timnas usianya satu sampai dua tahun lebih muda. Alasan blunder yang justru menohok PSSI sendiri. Menunjukkan kalau organisasi sepak bola nasional tersebut tak mampu membentuk tim U-19, sehingga memaksakan sekumpulan anak “muda” untuk tampil di kualifikasi event yang bermuara pada perhelatan Piala Dunia U-20. Berarti ada mata rantai pembinaan yang terputus.

POTONG KOMPAS

Kasus yang dialami Yeriko Christiantoko cs. sama seperti anak-anak Bangkalan, Mandura, beberapa bulan sebelumnya yang secara dadakan ditugasi bertarung di ajang Pra-Piala Asia U-16 di Bacolod, Filipina, karena PSSI tidak punya tim untuk tampil di sana. Karena serba dadakan, latihan persiapan hanya digelar seminggu ditangani Bambang Nurdiansyah yang juga ditugasi secara “dadakan” karena pelatih tim Bangkalan, Rasiman, tak memiliki sertifikat lisensi A AFC. Untung karena memang tim telah dibentuk selama setahun lebih atas prakarsa Menegpora, singkatnya masa persiapan akhirnya tak menjadi kendala.

Kasus serupa dialami SSB Villa 2000 pada tahun 2007. Karena PSSI tak memiliki tim siap pakai, sekolah sepak bola milik anggota Komite Eksekutif PSSI, Ferry Paulus, dipaksa tampil di penyisihan turnamen Manchester United Primer Cup U-15 zona Asia di Singapura. Karena masa persiapan singkat, hasilnya kurang memuaskan. Fakta-fakta di atas menunjukkan kalau sistem pembinaan sepak bola di Indonesia masih ambruradul alias tak berstruktur.

PSSI selalu kesulitan melakukan pembentukan timnas level junior karena memang minimnya kompetisi periodik kelompok umur setiap tahunnya. Praktis, selama ini PSSI hanya memiliki turnamen U-18 (Piala Suratin) dan U-19 (Piala Medco) yang pergelarannya dilakukan rutin setiap tahunnya. Selain dua event di atas tidak ada lagi event-event sejenis yang menjadi alat penempa young gun di seantero Tanah Air. Memang ada, beberapa turnamen reguler, seperti Piala Danone U-12, yang menghiasi jagad sepak bola Indonesia beberapa tahun terakhir. Tapi perhelatan tersebut muncul atas prakarsa perusahaan swasta PT Danone, bukan dari PSSI.

Jadi bukan sesuatu yang mengherankan bila akhirnya PSSI kesulitan melakukan pembentukan tim junior untuk keperluan event internasional. Parahnya diklat-diklat sepak bola di daerah banyak yang mati suri, karena kurangnya perhartian pemerintah daerah. Padahal, selama ini mereka menjadi lumbung pencetak pesepak bola berkualitas. Satu-satunyang harapan hanya ada SSB. Sayang, walau jumlahnya menjamur, satu dengan yang lain memiliki visi latihan yang berbeda tidak ditunjang kurikulum yang seragam sebagai pondasi pembinaan.

Inilah kenyataan pahit kondisi sepak bola Indonesia saat ini. Butuh jiwa besar untuk mengakui bahwa kualitas sepak bola negara kita tercinta berada dalam kondisi stagnan, kian tergerus negara-negara tetangga.

Sebuah pernyataan menarik dilontarkan, Cesar Payovich. “Dasar pembinaan sepak bola dimulai sejak dini saat anak-anak minimal berusia 12 tahun. Jika anak-anak U-19 dikirim ke Uruguay saat berusia seperti itu hasil yang bisa dicapai bisa lebih baik lagi dibanding saat ini,” ungkap Cesar.

Pernyataan serupa juga dilontarkan mantan pelatih timnas, Peter Withe beberapa tahun silam. “Saat melatih tim Indonesia saya seperti mengajari sekumpulan anak kecil. Karena mereka tidak punya pondasi bermain sepak bola yang kuat,” ungkap pelatih asal Inggris, yang rutin menerapkan pola gim latihan untuk anak usia 12 tahun di Inggris kepada Elie Aiboy cs. yang sebenarnya berusia matang sebagai pesepak bola.

Dengan kata lain Cesar dan Peter ingin menegaskan bahwa proses mencetak pesepak bola yang baik dilakukan sejak sedini mungkin. Bukan dengan cara potong kompas seperti saat ini.

Perubahan radikal harus sudah digeber PSSI untuk meningkatkan kualitas sepak bola kita di pentas internasional. Sudah saatnya PSSI tak lagi hanya hanya mengandalkan 25 anak muda yang dikirim ke Uruguay untuk menimba ilmu ke negara pengoleksi dua gelar Piala Dunia tersebut.

Sudah saatnya mereka membuat pondasi pembinaan yang kokoh di negara sendiri. Mengirim tim untuk menimba ilmu ke luar negeri boleh-boleh saja. Karena negara elite Asia sekelas Jepang dan Rep. Korea juga melakukan hal serupa untuk meningkatkan kualitas sepak bolanya. Tetapi, program pembinaan jangka pendek itu juga diikuti dengan perbaikan sistem pembinaan di negaranya masing-masing. Kompetisi berbagai level umur digelar konsisten di kedua negara tersebut, ditambah lagi pembangunan sarana pendukung seperti lapangan latihan serta sekolah-sekolah sepak bola dengan kurikulum yang diset secara khusus agar ada keseragaman pembinaan.

Nah, ini yang perlu dilakukan di negeri yang kita cintai. Alasan yang tak relevan rasanya jika faktor dana menjadi penghalang terwujudnya hal tersebut. Logikanya jika PSSI mampu membiayai Syamsir Alam dkk. untuk mengikuti program latihan di Uruguay dengan nominal 1 juta dolar per tahun, kenapa PSSI tidak bisa mengalokasikan dana untuk memutar kompetisi berbagai tingkat umur

Bahkan ekstremnya dibanding Nurdin Halid cs. ngotot memenangi bidding Piala Dunia 2022, alangkah lebih baik PSSI konsen memperbaiki pola pembinaan sepak bola dalam negeri sendiri. Mubazir rasanya menghambur-hamburkan uang Rp 240 miliar sumbangan dari Bakrie Brothers untuk keperluan bidding World Cup. Kocek begitu banyak rasanya cukup untuk membangun sarana prasarana pendukung pembinaan di berbagai daerah. Saya amat yakin pemerintah akan memberikan dukungan penuh terhadap program cerdas untuk meningkatkan kualitas persepak bolaan kita.

Menegpora, Andi Mallarangeng, secara blak-blakkan menyebut bahwa pemerintah lebih fokus menggarap peningkatan prestasi sepak bola Indonesia, dibanding memaksakan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia menantang negara-negara besar yang level kualitas sepak bolanya sudah jauh meninggalkan kita. Jadi tunggu apa lagi, saatnya kita berlari lebih kencang!

Entry Filed under: Sport News

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to comments via RSS Feed

Kategori

Januari 2010
S S R K J S M
« Des    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Blog Stats

Halaman

Komentar Terbaru

fnpinky di MySpace
fnpinky di Jaya Q
fnpinky di Jaya Q
fnpinky di Beras
fnpinky di Rafael Nadal

Blogroll

RSS berita olahraga terkini

 
%d blogger menyukai ini: